Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Benarkah Pandemi Covid 19 Sebagai | Tanda Tanda Kemunculan Satrio Piningit


Benarka pandemi covid 19 sebagai tanda tanda kemunculan satria piningit, Ratu adil.

Berdasarkan buku yang berjudul “ Satria Piningit Menyingkap Tabir Falsafah Kepemimpinan Ratu Adil ” yang ditulis oleh Sri Wintala Achmad.

Perlu kamu ketahui, bahwa bagi masyarakat Jawa yang sangat lekat dengan Falsafah Cakra Manggilingan, gara-gara yang ditangkap sebagai awal kebahagiaan, sehabis gelap gulita ada terang, sesudah gelap malam muncul pagi dengan cahaya matahari yang cemerlang di langit jingga kebiruan.

Akibat adanya falsafah Cakra Manggilingan yang mereka yakini, masyarakat Jawa memiliki persepsi bahwa kemunculan Satria Piningit Ratu Adil selalu di dahului dengan gara-gara yaitu suatu peristiwa mengerikan yang akan menyeret orang-orang kecil ke dalam penderitaan sebelum kembali menikmati kebahagiaan, misalnya adanya pandemi Covid-19 yang sedang melanda negara kita.

Sebagaimana para Punakawan, Semar dan ketiga putranya sang pamomong raja-raja di tanah Jawa yang tengah bersuka cita pasca “gara-gara” (kekacauan). Tidak hanya melalui gara-gara, tanda-tanda kemunculan Satria Piningit yang didahului dengan munculnya zaman Kalatida, zaman Kalabendu, atau zaman Edan disebutkan dalam serat Musarar Jayabaya, serat Sabdo Palon, serat Kalatida, dan serat Centini.

Berikut persepsi dari serat Musarar Jayabaya, serat Sabdo Palon, serat Kalatida, dan serat Centini mengenai tanda-tanda munculnya Satria Piningit, simak selengkapnya!

Serat Musarar Jayabaya

Serat Musarar Jayabaya menjelaskan mengenai kemunculan Satria Piningit melalui bait-bait tembang Macapat, yaitu pertama, kemunculan Satria Piningit dapat ditilik pada pupuh Sinom bait ke-18 yang menjelaskan bahwa negara semasa pemerintahan gajah metu sungune lelaki yang mendapat kutukan setelah tidak memiliki kepastian hukum dan pemerintah lung gadung loro ngelakasi yang merupakan pemimpin penuh inisiatif namun memiliki kelemahan yakni mudah tergoda oleh wanita cantik.

Kemudian tanda kedua, kemunculan Satria Piningit dapat ditilik pada pupuh Sinom bait ke-20 yang melukiskan situasi negara yang berantakan. Hubungan pemimpin negara dengan rakyat semakin menjauh. Dimulailah era baru dengan otonomi daerah sebagai implikasi dari bergulirnya zaman Kutila atau era reformasi.

Tanda ketiga, ditemukan pada pupuh Sinom bait ke-21 yang melukiskan mengenai penguasa asing yang turut mengintervensi di dalam negara. Banyak orang pintar yang tidak berdaya, rakyat semakin sengsara akibat proyek pelebaran jalan. Banyak rumah-rumah hancur, seorang pemimpin wanita dibayang-bayangi oleh dua saudara perempuannya.

Kemudian yang keempat, kemunculan Satria Piningit bisa dilihat di pupuh Sinom bait ke-22 yang menjelaskan datangnya zaman Kalabendu, zaman dimana banyaknya kerepotan. Sehingga pemimpin negara tidak sempat untuk mengurusi dirinya sendiri serta tidak sanggup menyelesaikan persoalan negara yang dihadapinya. Karenanya pemimpin negara diklaim oleh rakyatnya selalu dalam posisi kebimbangan dan tidak tegas.

Serat Sabdo Palon

Jika merujuk pada jagad pakeliran bahwa seorang satria widji ratu tanah Jawa selalu diasuh Semar, hal tersebut sejalan dengan yang disebutkan dalam serat Musarar Jayabaya bahwa sang putra Batara Indra akan muncul di sertai oleh Sapdo Palon. Berdasarkan kepercayaan orang-orang Jawa, Semar diidentikkan dengan Sapdo Palon. Waktu kemunculan Sabdo Palon tersebut bersamaan dengan kemunculan Satria Piningit dan waktu kemunculannya sesudah terjadinya gara-gara atau zaman Kalabendu.

Lalu bagaimana peristiwa gara-gara (pagebluk) ini menjadi tanda akan munculnya Sabdo Palon sekaligus Satria Piningit?

Menurut serat Sapdo Palon, tanda-tanda munculnya Sabdo Palon dan Satria Piningit dapat dilihat pada pupuh Sinom bait ke-5 sampai 15 yaitu pertama, gunung Merapi akan menggelegar dan meletus dahsyat dengan lahar mengalir ke arah barat daya, bau laharnya sangat menyengat dan tidak sedap.

Kemudian yang kedua Agama Budhi kembali berkembang lagi yaitu agama yang akan dijalankan oleh setiap manusia bukan hanya sekedar pada tatanan syariatnya saja namun sampai ketingkat hakikat atau ma’rifat. Kemudian yang ketiga banyak pemimpin hanyut dalam arus zaman Edan hingga rakyat kecil hidup di dalam penderitaan.

Selanjutnya yang keempat, orang-orang yang bekerja merasakan hasilnya tidak mencukupi sehingga banyak terjadi praktek korupsi, pencurian dan kejahatan lainnya. Untuk yang kelima banyak orang dari kalangan elite bersedih hati. Banyak pedagang menderita kerugian, upah pekerjaan sangatlah rendah atau murah. Banyak petani menderita kerugian karena penghasilannya habis digunakan untuk menutup modal operasionalnya.

Tanah yang diperah secara paksa dan diolah dengan pupuk kimia semakin tidak subur dan berkurang hasilnya. Banyak hama menyerang bagian tanaman bahkan berbagai tanaman. Kemudian banyak pencurian kayu dan pengerusakkan hutan.

Hingga bait ke-12 manusia memiliki kebobrokan moral, banyak pencuri disaat malam gerimis, banyak begal disiang bolong bahkan banyak orang berebut makanan karena rasa lapar tersebut banyak orang tidak lagi memperhatikan hukum negara.

Tanah Jawa dilanda bencana besar, sore sakit dan pagi meninggal. Banyak orang meninggal karena penyakit mendadak. Banyak terjadi hujan salah musim, banyak terjadi puting beliung yang merobohkan pohon-pohon besar dan menghancurkan rumah-rumah dan bangunan lainnya. Banyak banjir hingga wilayah yang dilanda seperti lautan pasang.

Banyak gunung Merapi meletus hingga menghancurkan desa-desa disekitarnya, terjadi gempa bumi tujuh kali sehari, bumi terbelah hingga banyak orang terkubur hidup-hidup di dalam tanah. Bnayak orang sakit akibat bencana tersebut. Kebanyakan mereka tidak dapat disembuhkan dan mereka meninggal.

Serat Kalathida

Selain Jayabaya, Ronggowarsito mengubah mengenai serat Kalatida sebuah karya sastra Jawa yang menjelaskan mengenai zaman Kalabendu, zaman Edan. Berbijak pada serat Kalatida pupuh Sinom bait 1-5.

Ronggowarsito menjelaskan bahwa negara yang tengah di landa zaman Kalabendu akan menghadapi berbagai persoalan, tidak hanya menghadapi tentang persoalan pemimpin dan wakil pemimpin negara yang terjebak dalam kebingungan hingga mereka menyingkirkan para bawahan yang baik dan merekrut para bawahan yang justru jahat, suka menjilat atasan, dan sekaligus suka menjegal terhadap sesama bawahan.

Norma-norma kehidupan di zaman Kalabendu tampak sangat merosot hingga banyak para pemimpin cerdik pandai dan kaum ulama yang seharusnya menjadi teladan bagi orang-orang kecil justru hanyut dalam berbagai kejahatan terhadap bangsa dan negara.

Disaat itulah rakyat yang hidup semakin menderita tidak mengetahui arah yang benar untuk melangkah, karena para negarawan yang suka menebar janji-janji palsu tidak dapat dijadikan panutan.

Disaat negara tengah krisis kepemimpinan, sebagaimana dilukiskan dalam pupuh  Sinom bait 1-5 dalam serat Kalatida, maka akan segera tiba Satria Piningit yang sangat diharapkan oleh rakyat kecil yaitu calon pemimpin ideal yang diimpikan oleh seluruh rakyat yang mampu membebaskan dari keterpurukan nasib bangsa dan negara.

Serat Cethini

Di dalam serat Cethini jilid 4 disebutkan pula zaman Kalatida yang menjelaskan tanda-tanda datangnya Satria Piningit. Melalui penjelasan zaman Kalatida dalam serat Centhini dapat disimpulkan bahwa datangnya Satria Piningit akan ditandai dengan beberapa kenyataan buruk, dimana hal tersebut dapat ditangkap dengan mata telanjang.

Beberapa kenyataan buruk tersebut, diantaranya banyaknya pemimpin yang bicaranya serba asal-asalan dan tidak dapat dipercaya oleh rakyatnya karena tidak adanya petunjuk dari Tuhan sekalipun para pemimpin selalu menyebut nama Tuhan. Inilah manifestasi zaman Kalatida yang bisa ditafsirkan sebagai zaman kegelapan.

Kemudian banyaknya wanita yang telah kehilangan rasa malu hal tersebut terbukti dengan banyaknya kasus korupsi yang dilakukan oleh sejumlah pejabat wanita, disamping itu banyak wanita yang terlibat kasus video asusila dan dilakukan oleh beberapa tokoh negara. Tidak sedikit pula wanita yang selalu berpenampilan seronok diruang-ruang publik. Karena semakin susahnya hidup, krisi ekonomi dan moral, maka timbulah kerenggangan sikap persaudaraan diantara saudara sendiri. Kedua krisis tersebut menimbulkan semakin meningkatnya angka kejahatan, seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan,dan sebagainya, dan hal tersebut terjadi dimana-mana.

Apabila zaman Kalatida atau gara-gara yang telah dilukiskan oleh serat Centhini telah paripurna maka zaman bumi Nusantara akan kembali kepada kemakmuran karena Satria Piningit muncul secara gaib dan membawa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.*** Disclaimer: Artikel ini hanya sekedar informasi bagi pembaca, Lingkar Madiun tidak bertanggung jawab atas copy rights sumber berita. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, grafis, video dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab sumber aslinya.
Sumber naskah: https://bit.ly/3w6Fzoi

Post a Comment for "Benarkah Pandemi Covid 19 Sebagai | Tanda Tanda Kemunculan Satrio Piningit"